Rabu, 24 Januari 2018

Seorang Pembunuh Bernama Ibu

Apakah yang lebih membahagiakan bagi sepasang suami istri selain tanda dua garis merah pada seutas testpack?

Hampir 100% pasutri pasti bahagia dengan kabar gembira tersebut. Bagaimana tidak? Mereka akan segera mendapatkan seorang buah hati dari hasil cinta mereka.
Tentunya, begitulah yang diidam-idamkan pasangan suami istri baru. Segera punya keturunan.

Bahkan bisa jadi, bukan hanya mereka saja yang terbahagiakan dengan kabar tersebut, keluarga besarnya pun akan menyambutnya dengan suka cita. Tak jarang, justru calon kakek dan neneknya lah yang lebih antusias dalam menyambut kedatangan si kecil.

Mulai dari membantu merawat ibu hamil, membantu mewujudkan apa yang sang ibu inginkan sepanjang masa kehamilannya, dan ikut serta menyiapkan kebutuhan apa sajakah yang kiranya akan diperlukan oleh sang buah hati.

Ah, betapa euforia kehamilan itu adalah sebuah momen yang paling dirindukan.

Tapi, lain ceritanya jika dua garis merah tersebut didapati oleh seorang remaja yang terbelit pergaulan bebas. Bukannya raut wajah sumringah yang akan nampak, tapi justru yang sangat kentara adalah kegelisahan yang luar biasa.

Ah, sungguh malang nian nasibmu, Nak!
Seorang bayi baru lahir ditusuk ibunya sendiri hingga kehilangan nyawanya.

Duuh, tulang-tulangku serasa mau rontok demi membaca sekilas berita itu. Aiiih, ibu macam manakah yang sedemikian kejamnya sampai tega menghilangkan nyawa darah dagingnya sendiri?

Bahkan seekor hewan pun punya insting untuk melindungi keturunannya. Lalu kemanakah perginya naluri seorang ibu dengan sifat bawaannya untuk melindungi orang yang ia kasihi?

Begitulah, saat nafsu telah membutakan akal. Saat melakukan perbuatan nista demi sebuah pembuktian cinta yang hanya bernafaskan nafsu angkara.
Maka dihilangkanlah rasa sakit dan dikuasakanlah perasaan takut.

Takut dan malu jika perbuatan nistanya diketahui orang lain. Tapi melupakan bahwa yang lebih memalukan adalah berani melanggar norma agama dan menganggap Tuhan tak pernah ada untuk menyaksikan kelakuan iblisnya.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar