Kamis, 25 Januari 2018

Hati yang Berkeping Part 1

Matahari hampir saja berpulang ke peraduannya. Di sekelilingnya, semburat rona jingga menghiasi senja.

Kami berdua duduk bersama, tapi pikiranku melanglangbuana entah ke negeri mana. Seolah terbungkam, mulutku tak bisa bersuara.

Juna menghela napas panjang dan berat. Air mukanya nampak keruh. Pandangan matanya kosong, tak secerah biasanya. Kemana kekasihku yang biasanya?

"Kita nggak bisa terus-terusan seperti ini.." bisiknya pelan. Aku melongok dan memasang mimik penuh tanda tanya.

"Maksud kamu?"

"Lebih baik kita berpisah saja. Tidak ada yang bisa kita pertahankan dari hubungan ini," tegasnya.

Aku mendelik. "Tapi kenapa? Apa alasannya? Kita sama-sama saling mencintai. Dan lagi, bukankah selama ini kita baik-baik saja? Kenapa kita harus menyudahi hubungan kita? Kenapa kamu memutuskan secara sepihak? Bukankah kamu juga yang menarikku ke dalam pelukanmu? Lantas, kenapa kamu mau meninggalkanku begitu saja?"

Suaraku tercekat di tenggorokan. Dia terpekur. Aku butuh alasan!

"Apa ada wanita lain? Apa kamu menemukan orang lain yang lebih segala-galanya dibandingkan aku? Seperti itukah..."

Hening.
Suara jangkrik memecah kesunyian. Langit sudah gelap sekarang. Cukup gelap untuk menyembunyikan tetesan air mata yang tiba-tiba mengalir tanpa bisa ku kendalikan.
Yaa, kami berdua sedang duduk bersama di sebuah gubuk di tengah sawah. Yaa, awalnya kupikir ajakannya bertemu sore ini adalah sebuah pertanda baik untuk kelangsungan hubungan kami ke depannya. Tapi ternyata, yang terjadi sangat jauh dari apa yang aku angankan.

Bagaimana kekasihku sendiri tega menghancurkan hati yang telah ku persembahkan untuk ia jaga?
Bukankah hati yang telah hancur menjadi kepingan-kepingan kecil tidak akan bisa utuh kembali seperti sediakala?

Rabu, 24 Januari 2018

Tips Belanja Online ala MakNara

Baca di grup,
Marak lagi kasus penipuan belanja online. Pemilik akun sering gonta-ganti nama, tapi norek yang dipakai yaa tetep itu-itu aja sih.

Jadi inget nih,
Kapan hari ada seseorang nginbox saya, intinya nanya tentang seller sebelah, yang nama akun fb nya beda sama nama di rekeningnya.

Yaa,
Berhati-hati dan curiga pada orang yang belum pernah dikenal sebelumnya sih wajar dan sah-sah saja. Maklum lah, dia menaruh was-was mengingat kasus penipuan belakangan ini.

Saya iyakan, pernah bertransaksi disana. Dan yaa, memang nama akun dan rekeningnya berbeda. Tapi, insyaalloh mbaknya amanah. Buktinya, barangnya beneran sampai. Walaupun pernah kejadian paketan saya ketuker sama cust lain, tapi toh kemudian mbaknya wasap, menawarkan solusi yang solutif.
Orderan yang salah saya kirimkan ke alamat yang seharusnya dan pesanan saya dikirimkan ulang ke alamatku. Ongkir ditanggung seller juga dong, pastinya.

Nah,
Tips ala makNara untuk menghindari penipuan online:
❤Stalkingin dulu fb si seller sebelum bertransaksi
❤Sudah berapa lama seseakun itu aktif di dunia maya?
❤Perhatikan interaksi seller dengan teman-temannya
❤Cek album testi (jika ada), cek pula harganya (sesuai standar atau jauh di bawah harga pasar)
❤Setelah yakin dan siap untuk melakukan transaksi, periksa dulu norek-nya
Caranya, copas norek seller ke mbah gugel, jika banyak review buruk, it's means a big no no no!
Jika bersih, berarti sellernya aman 😅
❤Jika masih kurang yakin, coba tanyakan tentang seller ini kepada orang yang pernah bertransaksi dengannya sebelumnya
❤Yang terakhir,
❤Jangan lupa minta ijin suami sebelum berbelanja
❤❤❤

Happy shopping, Mak! 😊😊

Seorang Pembunuh Bernama Ibu

Apakah yang lebih membahagiakan bagi sepasang suami istri selain tanda dua garis merah pada seutas testpack?

Hampir 100% pasutri pasti bahagia dengan kabar gembira tersebut. Bagaimana tidak? Mereka akan segera mendapatkan seorang buah hati dari hasil cinta mereka.
Tentunya, begitulah yang diidam-idamkan pasangan suami istri baru. Segera punya keturunan.

Bahkan bisa jadi, bukan hanya mereka saja yang terbahagiakan dengan kabar tersebut, keluarga besarnya pun akan menyambutnya dengan suka cita. Tak jarang, justru calon kakek dan neneknya lah yang lebih antusias dalam menyambut kedatangan si kecil.

Mulai dari membantu merawat ibu hamil, membantu mewujudkan apa yang sang ibu inginkan sepanjang masa kehamilannya, dan ikut serta menyiapkan kebutuhan apa sajakah yang kiranya akan diperlukan oleh sang buah hati.

Ah, betapa euforia kehamilan itu adalah sebuah momen yang paling dirindukan.

Tapi, lain ceritanya jika dua garis merah tersebut didapati oleh seorang remaja yang terbelit pergaulan bebas. Bukannya raut wajah sumringah yang akan nampak, tapi justru yang sangat kentara adalah kegelisahan yang luar biasa.

Ah, sungguh malang nian nasibmu, Nak!
Seorang bayi baru lahir ditusuk ibunya sendiri hingga kehilangan nyawanya.

Duuh, tulang-tulangku serasa mau rontok demi membaca sekilas berita itu. Aiiih, ibu macam manakah yang sedemikian kejamnya sampai tega menghilangkan nyawa darah dagingnya sendiri?

Bahkan seekor hewan pun punya insting untuk melindungi keturunannya. Lalu kemanakah perginya naluri seorang ibu dengan sifat bawaannya untuk melindungi orang yang ia kasihi?

Begitulah, saat nafsu telah membutakan akal. Saat melakukan perbuatan nista demi sebuah pembuktian cinta yang hanya bernafaskan nafsu angkara.
Maka dihilangkanlah rasa sakit dan dikuasakanlah perasaan takut.

Takut dan malu jika perbuatan nistanya diketahui orang lain. Tapi melupakan bahwa yang lebih memalukan adalah berani melanggar norma agama dan menganggap Tuhan tak pernah ada untuk menyaksikan kelakuan iblisnya.




Senin, 22 Januari 2018

Status Baru

7 Januari,
Tepat 4 tahun silam, pertama kalinya merasakan bagaimana perjuangan seorang ibu yang sesungguhnya.

Pagi bangun tidur, terkejut dengan kondisi tempat tidur yang sudah basah kuyup. Bingungnya lagi, keluar air hangat dari jalan lahir bayi. "Ini kenapa? Kok pipis nggak bisa berhenti?" tanyaku panik.
Langsung lari ke toilet, buang air kecil, tapi airnya masih tak kunjung berhenti.

"Kenapa?" tanya mertua suamiku demi melihat mukaku yang pucat pasi.
"Pipisnya nggak bisa berhenti.." sahutku.

"Itu bukan pipis! Ketubanmu pecah. Bayinya udah mau keluar. Sana pergi ke bidan!" sentaknya.

"Baru tanggal 7. HPL nya masih tanggal 27 kok.." balasku polos, saat itu.
Ibuku melotot. "Kalo udah ketuban pecah itu berarti bayinya udah mau keluar. Nggak peduli tanggal berapa!" pekiknya lagi.
Aku setengah meringis. Pengen ketawa, tapi panik juga. Takut kalau terjadi hal yang tak diinginkan.

"Trus, ini gimana? Airnya nggak mau berhenti.."

"Bentar, kucarikan pampesnya Sabna dulu. Diem disitu! Nggak usah cerewet!"

Tak lama, disodorkannya dua lembar popok perekat milik adik bungsuku. "Harus pake ini ya?" tanyaku lagi. Ibuku makin melotot.

"Buruan dianterin istrinya ke bidan, Mas!" seru ibuku pada menantunya. Suamiku terkesima. "Bentar yo, aku sarapan dulu. Sama sekalian ke toilet.."

"Welah, nanti aja! Ini udah kondisi darurat!" suara ibuku makin kencang.

Akhirnya dibawa ke bidan..

"Diobservasi dulu ya mba.." kata sng bidan. Calon emak nubi manut bak kebo dicocok hidungnya. Selesai mengobservasi, saya dipasangi popok tampung berperekat ukuran besar agar air ketubannya nggak menetes kemana-mana.
Lepas itu, bidannya berkata "Oh, ini belum turun mba, bayinya. Masih di atas, belum masuk jalan lahir. Suaminya pulang aja dulu, ngambil perlengkapan. Mbaknya disini aja. Dipake jalan-jalan, naik turun tangga, biar adeknya cepet turun.."

Suami segera pulang. Tak lama adik perempuanku menyusul, membawakanku tas berisi perlengkapanku dan calon bayiku. Berikut sebotol air berwarna agak keruh.

"Ini apa?" tanyaku.
"Itu air rendaman rumput fatimah.. Kata mamak suruh ngabisin" jawabnya.

Jadi malamnya, tanggal 6 Januari 2014, kakung baru saja pulang dari umroh. Sempat dipesenin rumput fatimah sama istrinya, untuk melancarkan proses persalinanku.

"Minumnya jangan sampai ketauan sama bidannya ya?" pesan adikku. Aku merengut. "Emangnya kenapa?" tanyaku.

Adikku mengedikkan bahu. "Entahlah.."

"Suamiku mana?" tanyaku kemudian. "Mau mandi dulu sama sekalian sarapan katanya tadi.." jawabnya.

Kurasakan perutku mulai bergejolak. Segera ku beranjak ke toilet. Tapi, saat sudah berada disana, mendadak rasanya menghilang. Begitu terus kurasakan sampai adikku sendiri pusing melihatku keluar masuk toilet.

"Kamu tu kenapa sih?" tanyanya.
"Kebelet. Tapi ga bisa keluar.. Sini, aku minum aja" sahutku sambil meminta botol rumput fatimah yang dibawakannya tadi.
Aku meneguknya sedikit demi sedikit.  Rasanya agak aneh, menurutku. Yah, anggap aja jamu 😂

Menjelang Dhuhur, perutku kian melilit. Lapaaaar!

"Mana nih, udah hampir jam 12 siang. Kok makan belum datang juga?" gerutuku pada suamiku.
"Sabar.." sahutnya.

"Sabar gimana? Udah lemes banget ini, biasanya udah makan 2-3kali, ini dari pagi belum ngunyah loh.. Cari makan sendiri aja, yuk! Beli bakso aja.." ajakku.

Akhirnya aku dan suamiku keluar dari klinik tersebut. Berjalan kaki sampai menuju warung makan yang berada ±500m dari tempat tersebut.

Tapi, baru 5 langkah berjalan, kurasakan sakit bukan kepalang di perut bagian bawah. Aku berjalan tertatih sembari meletakkan tanganku di perut.

"Kamu kenapa? Sakit ya?" tanya suamiku. Aku hanya bisa mengangguk. Sakit! Tapi lapar. Mau tak mau, aku tetap berjalan ke tujuan kami semula. Makan.

Lepas makan, rasa sakitnya semakin menjadi. Rasanya datang dan pergi dalam jeda waktu yang semakin rapat.

"Ya Alloh! Mudah-mudahan aku bisa melahirkan normal. Mudah-mudahan bayiku bisa lahir dengan sehat dan selamat. Mudahkanlah ya Alloh!" doaku saat itu.

Selesai makan, aku kembali lagi ke klinik. Tak lama, adikku datang. Dia menawarkan diri menungguiku sementara suamiku sholat.

Begitu suamiku pulang untuk sholat, rasa sakit yang sempat menghilang tadi, datang lagi. Kali ini lebih kuat dari yang tadi.

"Dek, tolong panggilin bidannya sana! Perutku sakit banget ini.." pintaku.
"Bidannya dimana?" tanyanya.

Aku menunjuk ruangan di sebelahku. Dia pun segera pergi memanggil sang bidan. Aku melirik jam di dinding yang menunjukkan pukul 12.30.

Kemudian, adikku datang, sendirian.

"Mana bidannya?" tanyaku gusar.
"Katanya suruh nunggu dulu sebentar. Mau solat sama makan siang dulu.."
Subhanalloh, rasanya...

Tak lama suamiku datang. Adikku pun pamit pulang.

Jam menunjukkan pukul 14.00 saat bidan itu memasuki ruangan dimana aku merebahkan diri.
Dia segera mengenakan sarung tangannya dan memeriksaku.

"Bagus, Mbak.. Terus berdoa yaa biar dilancarkan persalinannya. Saya mau ngobrol dulu sama suaminya.." kata bidan itu.

Ada apakah gerangan?
Apa ada sesuatu yang ganjil?

15 menit berselang, suamiku masuk ke kamarku. Dia memintaku bersiap-siap dan berkemas.

"Kenapa?" tanyaku penasaran.
"Kita pindah ke rumahsakit." jawabnya pendek.
"Kenapa? Kenapa nggak disini aja?" kejarku.
"Bidannya nggak berani meneruskan langkahnya. Dia minta kita pindah ke rumahsakit yang alatnya lebih lengkap. Dia nggak berani membantu. Resikonya terlalu besar.." jawabnya.
Mendadak nafasku terasa sesak. Suaraku tercekat di tenggorokan.

"Apa harus dioperasi?" tanyaku pada bidan yang kemudian masuk. "Apa aku nggak bisa melahirkan secara normal?"

Bidan itu masih memasang senyum di wajahnya. "Insyaalloh bisa! Berdoa terus ya, mbak.. Mari, saya antarkan ke rumahsakit."

Lepas makan, rasa sakitnya semakin menjadi. Rasanya datang dan pergi dalam jeda waktu yang semakin rapat.

"Ya Alloh! Mudah-mudahan aku bisa melahirkan normal. Mudah-mudahan bayiku bisa lahir dengan sehat dan selamat. Mudahkanlah ya Alloh!" doaku saat itu.

Selesai makan, aku kembali lagi ke klinik. Tak lama, adikku datang. Dia menawarkan diri menungguiku sementara suamiku sholat.

Begitu suamiku pulang untuk sholat, rasa sakit yang sempat menghilang tadi, datang lagi. Kali ini lebih kuat dari yang tadi.

"Dek, tolong panggilin bidannya sana! Perutku sakit banget ini.." pintaku.
"Bidannya dimana?" tanyanya.

Aku menunjuk ruangan di sebelahku. Dia pun segera pergi memanggil sang bidan. Aku melirik jam di dinding yang menunjukkan pukul 12.30.

Kemudian, adikku datang, sendirian.

"Mana bidannya?" tanyaku gusar.
"Katanya suruh nunggu dulu sebentar. Mau solat sama makan siang dulu.."
Subhanalloh, rasanya...

Tak lama suamiku datang. Adikku pun pamit pulang.

Jam menunjukkan pukul 14.00 saat bidan itu memasuki ruangan dimana aku merebahkan diri.
Dia segera mengenakan sarung tangannya dan memeriksaku.

"Bagus, Mbak.. Terus berdoa yaa biar dilancarkan persalinannya. Saya mau ngobrol dulu sama suaminya.." kata bidan itu.

Ada apakah gerangan?
Apa ada sesuatu yang ganjil?

15 menit berselang, suamiku masuk ke kamarku. Dia memintaku bersiap-siap dan berkemas.

"Kenapa?" tanyaku penasaran.
"Kita pindah ke rumahsakit." jawabnya pendek.
"Kenapa? Kenapa nggak disini aja?" kejarku.
"Bidannya nggak berani meneruskan langkahnya. Dia minta kita pindah ke rumahsakit yang alatnya lebih lengkap. Dia nggak berani membantu. Resikonya terlalu besar.." jawabnya.
Mendadak nafasku terasa sesak. Suaraku tercekat di tenggorokan.

"Apa harus dioperasi?" tanyaku pada bidan yang kemudian masuk. "Apa aku nggak bisa melahirkan secara normal?"

Bidan itu masih memasang senyum di wajahnya. "Insyaalloh bisa! Berdoa terus ya, mbak.. Mari, saya antarkan ke rumahsakit."

Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, rasa sakit yang baru kuketahui bernama kontraksi itu semakin sering muncul. Sesekali aku mengaduh. Kutarik tangan suamiku untuk kuusapkan ke perut buncitku. Biasanya, rasa sakitnya akan berkurang. Tapi kali ini, tak berpengaruh.

Bidan yang tengah mengobrol santai dengan supirnya di jok depan, melirikku. "Kurang-kurangin ngeluh. Tetap senyum, Mbak. Banyakin istighfar. Insyaalloh rasa sakitnya berkurang. Senyum terus yaa biar pembukaannya lancar," ujarnya dengan senyum lebar terulas.

Sampai di rumahsakit, bidan itu memapahku masuk ke ruang UGD disambut para perawat. Dibantu mereka, aku segera dibaringkan.

"Udah ya, Mbak! Saya tinggal dulu. Nanti dibantuin sama dokter disini," pamitnya.

Sepeninggalnya, aku merasakan sesuatu keluar dari jalan lahirku. Spontan, aku panik. "Susterr! Ini apa? Kayak ada yang keluar! Suster!" teriakku gusar. Aku tak tahu lagi harus minta tolong pada siapa. Suamiku sedang registrasi di ruangan sebelah.
Para perawat berhamburan mendekatiku. Mereka menyingkap kain yang menutupiku. "Astaga! Kakinya keluar!" pekik salah satunya. Mukaku makin pucat. "Hah?!! Terus gimana Mbak ini jadinya?" seruku ikut panik.

"Ini tadi ketubannya pecah jam berapa?"
"Setengah tujuh, Mbak.."
"Udah pecah dari jam segitu dan baru dibawa kesini sekarang? Pantesan aja bidannya langsung kabur! Tadi katanya tangannya yang di bawah, kalo ini sih bukan tangan, tapi kaki. Kok bisa setenang itu ya, bidannya?"

Elah, mbak! Ini saya butuh pertolongan, malah diwawancara soal bidannya 🙈🙈

"Mbak mau dibantu dokter laki apa perempuan?"
"Perempuan aja deh, Mbak.."
"Yang perempuan nggak ada. Adanya cuma dokter laki-laki. Kalo mau nungguin yang perempuan, datangnya jam 16.00, Mbak.."

Lah, ngapain pake nawarin? Masak iya mau nungguin dokternya? Ini kaki udah keluar!!

"Mbak, Mbak! Ini kayak ada yang keluar lagi, Mbak.. Gimana ini, Mbak??"
"Yaa ampuun! Kakinya makin banyak, keluarnyaa!"

Duh, susternya malah bikin hati makin dagdigdug.

Segera,
Ranjangku didorong ke ruang operasi. Sesampainya disana, dokter menyuruh perawat memanggil suamiku.

"Maaf, Pak! Kasus kayak gini lumayan sulit. Biasanya kita operasi. Tapi ini kakinya udah di luar. Nggak mungkin mau dimasukin lagi. Tolong ya, dilihat sendiri. Kondisinya seperti ini. Tolong ditandatangani surat pernyataan ini dulu, baru kita lanjutkan prosesnya.."

Aku menghela napas panjang. Bismillahh! Ini jihadku!

"Disuntik dulu ya, Bu! Cuma sakit dikit, kok.."
Walaupun dikit, tapi tetep sakit juga kan, Dok? 😯😯
"Kalo belum disuruh mengejan, jangan mengejan!" perintahnya.

Aku menghela napas panjang, lagi.
"Ayo, Bu! Mengejan sekarang!"
"Aaaaaaaaaaaaargh!" teriakku lantang mengikuti adegan sinetron saat tokoh ibu melahirkan anaknya.
"Ibu ini tau mengejan enggak sih? Jelek banget ini! Ibu pernah buang air besar, kan? Nah, mengejannya kayak gitu! Emang kalo buang air pake teriak-teriak gitu, bisa keluar ya? Ayo ngejan yang bener! Nggak kasian sama adeknya? Adeknya ini udah semangat mau keluar daritadi loh! Kalo ibu nggak serius, bisa-bisa nyawa anak ibu taruhannya!" bentak dokter paruh baya itu.

Ya ampunn! Awas kau sinetron! Sudah menipuku habis-habisan!!
Maaf ya, Nak! Ibumu nggak tau kalo adegan itu palsuu 🙈🙈

Jam 15.30 aku masuk ruang operasi.
Jam 15.45 bayiku lahir.

"Selamat ya, Bu! Bayinya perempuan. Sehat," ujar sang dokter. Aku mengambil napas panjang dengan dibantu selang udara yang ditempel di depan lubang hidungku. Ah, napasku sudah tersengal sejak masuk rumahsakit tadi. Itulah kenapa aku dipasangi alat itu.

Bayiku sudah lahir, tapi aku tak mendengar suaranya sedikitpun. Dia tak menangis. Tak mengeluarkan suara seperti bayi yang lain. Bayiku kenapa?

"Anakku mana, Yah?" tanyaku pada suamiku.
"Dimasukin ke ruang perawatan bayi.."
"Kok nggak nangis?"
"Ketubannya tadi hampir habis. Jadi barangkali dia jadi susah bernapas juga. Tadi sempat kejepit beberapa kali juga, kan?"

"Trus, kamu tadi darimana? Kok lama banget nggak keliatan?"
"Oh, tadi solat dulu.."
"Udah makan?"
"Belum.. Oh ya, aku pulang dulu ya?"
"Pulang? Mau ngapain?"
"Mau ambil motor. Kan tadi kita kesini naik mobilnya bu bidan. Motornya tadi kutinggal disana, kuncinya kutitipin bapak. Aku pulang dulu naik bus. Nanti aku kesini lagi naik motor, ya? Bentar lagi kan kamu dipindah ke ruang perawatan.." ujar suamiku.

Malamnya, mertuaku dan orangtuaku datang menengokku. Lepas melahirkan, kakiku rasanya rontok. Sekujur badanku serasa lepas dari tulang-tulangnya.

"Gimana rasanya? Enak kan?" tanya ibuku. Aku meringis. Ibu mertuaku mendekat dan memijat kakiku. Aku menarik kakiku pelan. "Nggak usah, Mak!" tolakku halus.

"Rasanya pasti pegal. Dipijat sebentar. Biar sakitnya berkurang.." sahut ibu mertuaku seraya menarik kakiku.

Malam itu, aku masih belum bisa melihat raut wajah bayiku. Sementara pasien yang ada di ranjang sebelah, sudah terlebih dahulu berkumpul dengan bayinya. Padahal, dia baru masuk ruangan yang sama denganku pukul 17.00 petang.

Ah, mudah-mudahan bayiku baik-baik saja.

"Kok anak kita nggak dibawa kesini sih, Yah?" tanyaku lepas mertuaku pulang. Suamiku mengelus keningku. "Mungkin besok. Malam ini dia dirawat susternya.."

Aku mengelus perutku yang tak lagi buncit. Rasanya aneh..

Peluh membasahi keningku. Badanku bersimbah keringat. Hari sudah hampir tengah malam. Aku merasa lengket daaan ingin buang air kecil.

Tapi aku teringat bekas jahitan sore tadi yang pasti belum kering. Membayangkannya lagi membuatku bergidik ngeri.

Tapi, bagaimana lagi. Kata dokternya tadi, harus segera ke kamar kecil kalau sudah terasa ingin buang air kecil.

Dibantu suamiku, aku bangun perlahan dari tempat tidur dan dipapah ke toilet. Apakah laki-laki yang disunat itu rasanya juga seperti ini? Kalo iya, beruntung mereka cuma merasakannya sekali seumur hidup. Sementara wanita, bisa hamil dan melahirkan selama dia masih aktif bereproduksi.

Di kamar mandi, aku berpegangan pada dinding. Berdiri saja aku hampir terhuyung. Ah, selemah inikah aku? Ternyata aku tidak sekuat ibuku. 7kali pasang badan melahirkanku dan adik-adikku. Badanku bergetar. Gigiku bergemerutuk. Fix, aku kedinginan!

Suamiku membantuku membersihkan diri. Malam itu aku tak bisa tidur dengan nyenyak. Badanku serasa remuk dan bayiku tak ada di sisiku.

Pagi tiba dan siang mulai merangkak.
Bayiku tak kunjung datang. Aku mulai mempertanyakannya lagi. Tapi lagi-lagi suamiku menjawab dengan perkataan yang sama.

Akhirnya aku memaksa suamiku mengantarkanku ke ruang dimana bayiku berada.

"Jalan aja ya?" ajak suamiku.
"Jauh nggak?" tanyaku.
"Ruangannya ada di lantai satu.. Di bagian ujung barat.."

Iyaa, dan kita ada di sisi sebaliknya, Baaang.. Di lantai dua, pula.

Aku mendapati kursi roda di depan bangsal. "Pakai itu aja.." tunjukku.
"Tapi gantian, ya.. Berangkatnya aku dorong kamu, nanti baliknya kamu yang dorong aku.." balasnya.

"APAAAAAAA?!!!"

***********

Nara lahir normal dengan berat 3,5kg dan panjang 49cm. Sekujur tubuhnya terbalut lemak tebal. Dia sehat, tapi tak keluar tangis sedikitpun saat pertama kali mengenal dunia. Beberapa bagian kakinya membiru karna beberapa kali terjepit saat akan keluar. Proses persalinannya menegangkan tapi sekaligus mengundang geli.

Nara, anak gadisku yang kini berusia 4tahun. Anak sulungku yang sudah dihadiahi adik di usia 20bulan. Anak perempuanku yang kini tumbuh menjadi anak yang cerewet.

Masih teringat saat nenekmu menceritakan tentang ayahmu yang kala itu membawa pulang ari-arimu dengan wajah bingungnya.

"Ini ditaruh mana, ya?" gumam suamiku.
"Dikubur depan rumah sana, lhoh! Masak mau dimasukin ke almari!" seru ibuku. Ah, ibuku memang terbiasa berbicara kencang.
"Gimana lahirannya?" tanya ibuku kemudian.
"Udah lahir, Mak. Masak mau lahiran tadi, aku disuruh nemenin dia di dalam ruangan sama dokternya.." suamiku mengadu.
"Lha ya bener lah! Masak mau nyuruh pak RT. Kamu kan suaminya!" balas ibuku.

Ah, dia pasti takut dan kuatir sekali saat itu!

Dan ternyata perjuangan seorang ibu tak hanya soal hamil dan melahirkan saja. Tapi di depannya, perjuangan baru akan segera dimulai. Yaa, perjuangan mendidik, merawat dan membesarkan anak. Tapi aku yakin, aku tak sendirian. Kan bikinnya berdua ya, Bang!

Senin, 15 Januari 2018

Perkenalan

Assalamualaikum w.w.
Perkenalkan,
Nama saya Chusnul Latifah. Lahir 23 Agustus 1992. Istri dari Azis Mustaqim dan ibu dari dua orang anak, Kinara Syifa (4tahun) dan Tsabit Alfaruq (2tahun)

Tinggal di salah satu sudut kota Gudeg, atau biasa disebut Jogja.

Kesibukan harian sebagai IRT merangkap olshopers 😊.
Saat ini aktif berjualan aneka kebutuhan ibu dan bayi, buku-buku bergizi dan fashion muslim. 
Keliatan maksa banget yaa, palugadanya? 🙈🙈

Habis gimana sih,
Ketimbang hape nganggur, kuotanya mending dimanfaatin kan buat buka lapak? 😅