Kamis, 25 Januari 2018

Hati yang Berkeping Part 1

Matahari hampir saja berpulang ke peraduannya. Di sekelilingnya, semburat rona jingga menghiasi senja.

Kami berdua duduk bersama, tapi pikiranku melanglangbuana entah ke negeri mana. Seolah terbungkam, mulutku tak bisa bersuara.

Juna menghela napas panjang dan berat. Air mukanya nampak keruh. Pandangan matanya kosong, tak secerah biasanya. Kemana kekasihku yang biasanya?

"Kita nggak bisa terus-terusan seperti ini.." bisiknya pelan. Aku melongok dan memasang mimik penuh tanda tanya.

"Maksud kamu?"

"Lebih baik kita berpisah saja. Tidak ada yang bisa kita pertahankan dari hubungan ini," tegasnya.

Aku mendelik. "Tapi kenapa? Apa alasannya? Kita sama-sama saling mencintai. Dan lagi, bukankah selama ini kita baik-baik saja? Kenapa kita harus menyudahi hubungan kita? Kenapa kamu memutuskan secara sepihak? Bukankah kamu juga yang menarikku ke dalam pelukanmu? Lantas, kenapa kamu mau meninggalkanku begitu saja?"

Suaraku tercekat di tenggorokan. Dia terpekur. Aku butuh alasan!

"Apa ada wanita lain? Apa kamu menemukan orang lain yang lebih segala-galanya dibandingkan aku? Seperti itukah..."

Hening.
Suara jangkrik memecah kesunyian. Langit sudah gelap sekarang. Cukup gelap untuk menyembunyikan tetesan air mata yang tiba-tiba mengalir tanpa bisa ku kendalikan.
Yaa, kami berdua sedang duduk bersama di sebuah gubuk di tengah sawah. Yaa, awalnya kupikir ajakannya bertemu sore ini adalah sebuah pertanda baik untuk kelangsungan hubungan kami ke depannya. Tapi ternyata, yang terjadi sangat jauh dari apa yang aku angankan.

Bagaimana kekasihku sendiri tega menghancurkan hati yang telah ku persembahkan untuk ia jaga?
Bukankah hati yang telah hancur menjadi kepingan-kepingan kecil tidak akan bisa utuh kembali seperti sediakala?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar